Penelitian ini bertujuan mendokumentasikan dan menganalisis leksikon yang digunakan dalam proses pembuatan kapal Pinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya maritim Bugis-Makassar. Kapal Pinisi merupakan warisan budaya yang mengandung nilai historis, filosofis, dan teknologis, dengan proses pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para panrita lopi. Modernisasi dan perubahan material maupun teknik pembuatan kapal menyebabkan sebagian istilah tradisional mulai tergeser, sehingga pendokumentasian leksikon menjadi sangat penting. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik wawancara dan perekaman terhadap para pengrajin kapal yang masih menuturkan istilah tradisional dalam praktik pertukangan. Data kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kategori leksikon, yaitu leksem alat, leksem bahan, dan leksem proses pembuatan kapal Pinisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksem alat mencerminkan keterkaitan antara bahasa, pengetahuan lokal, dan teknologi tradisional, sementara leksem bahan mengungkap dinamika penggunaan material dari kayu tradisional menuju bahan modern seperti baja dan fiberglass. Adapun leksem proses mengandung makna teknis sekaligus nilai-nilai sosial, spiritual, dan ekologis yang melekat dalam praktik pembuatan kapal. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa leksikon kapal Pinisi tidak hanya berfungsi sebagai kosakata teknis, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya, kearifan lokal, serta warisan maritim masyarakat Bugis-Makassar yang perlu dilestarikan di tengah arus modernisasi.
Copyrights © 2025