Ruang dan waktu merupakan tantangan nyata dalam budidaya magot secara komunal. Siklus kehidupan magot (dari pupa menjadi lalat hitam dan kembali menjadi pupa) membutuhkan ruang hidup dan perlakuan yang berbeda. Tantangan ini seringkali menyulitkan masyarakat yang tinggal di daerah penyangga kota untuk mengatasi sampah organik secara mandiri dengan magot, sekaligus membudidayakan dan menjual magot secara berkelompok. Terinspirasi oleh sustainable development goals (#8 decent work and economic growth, #12 responsible consumption and production), Universitas Pelita Harapan dengan Singapore Polytechnic International menyelenggarakan program Learning Express untuk mahasiswa/i bersama warga Kranggan, Tangerang Selatan menjawab tantangan tersebut. Selama 10 hari, mahasiswa/i dari berbagai program studi menggali masalah dan potensi, menyisir tema tantangan, memformulasikan pertanyaan yang tepat, dan membangun purwarupa solusi dengan metode design thinking. Pada akhir program, mahasiswa/i memberikan ideasi sebuah wadah yang mudah dibawa untuk magot pupa berfungsi mengatasi sampah organik sekaligus menjadi sumber pendapatan warga secara komunal, sambil wadah ini beradaptasi terhadap keterbatasan ruang dan waktu (siklus magot) yang warga hadapi. Kata Kunci : pembelajaran kolaboratif, design thinking, budidaya magot urban, ekonomi komunal berbasis ekologi
Copyrights © 2025