Pertanian di Desa Miawa, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, masih sangat bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Praktik ini berisiko menyebabkan penumpukan hama dan penyakit karena kurangnya rotasi tanaman. Di sisi lain, desa ini memiliki sumber daya lokal melimpah yang belum dimanfaatkan secara optimal, seperti limbah bonggol pisang dan kotoran kambing. Untuk mengatasi masalah ini dan mendukung pertanian berkelanjutan, sebuah program pelatihan dan demonstrasi pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari bonggol pisang diadakan untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Miawa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat. Materi yang disampaikan meliputi definisi MOL, manfaatnya, dan kandungan yang terdapat pada MOL bonggol pisang. Bonggol pisang kaya akan karbohidrat dan mikroba pengurai seperti Bacillus sp. dan Aspergillus niger, yang berperan penting dalam meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah secara alami. Peserta, yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang pengolahan limbah ini, diberikan pelatihan teoretis dan praktik langsung untuk membuat MOL bonggol pisang. Proses pembuatannya melibatkan bahan-bahan sederhana seperti bonggol pisang, gula merah, tepung beras, dan air. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman peserta, dan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis serta mengoptimalkan pemanfaatan limbah. Penggunaan MOL bonggol pisang berpotensi memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan hasil panen, dan mendukung konsep pertanian berkelanjutan.
Copyrights © 2025