Pengemasan dan transportasi buah segar menghadapi tantangan ganda: tingginya kerugian pascapanen (40-50%) dan dampak lingkungan dari kemasan plastik konvensional. Kajian literatur ini mengeksplorasi solusi inovatif dengan menganalisis pemanfaatan gulma air (seperti eceng gondok) dan limbah pertanian (seperti kulit pisang dan ampas tebu) sebagai bahan baku kemasan berkelanjutan melalui pendekatan filsafat ilmu. Secara ontologis, hakikat limbah diubah dari bahan tak berguna menjadi sumber daya bernilai yang kaya biopolimer seperti selulosa dan pektin. Validasi epistemologis dilakukan melalui metode empiris, termasuk sintesis material (misalnya, hidrogel dari eceng gondok), pengujian kinerja mekanis, dan Analisis Siklus Hidup (LCA). Hasilnya menunjukkan bahwa material berbasis limbah ini menawarkan kinerja perlindungan yang kompetitif—terbukti mampu mengurangi kehilangan berat, mempertahankan kekerasan, dan meningkatkan retensi warna pada buah selama transportasi. Keunggulan utamanya terletak pada sifat biodegradable, yang dikonfirmasi melalui pengujian penguburan tanah dimana material mengalami pengurangan massa signifikan. Secara aksiologis, inovasi ini memberikan nilai keberlanjutan yang luas. Dengan mendukung ekonomi sirkular, mengurangi polusi plastik, dan meminimalkan kerugian pascapanen, pendekatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 12. Disimpulkan bahwa pemanfaatan limbah untuk kemasan buah tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memiliki landasan filosofis yang kuat untuk menciptakan sistem transportasi buah yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab secara lingkungan.
Copyrights © 2025