Penelitian ini mengkaji disosiasi yang dialami Fatima, tokoh utama novel Al-Khabā’ karya Miral al-Tahawy, sebagai mekanisme pertahanan psikologis dalam merespons trauma domestik dan penindasan patriarkal. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis teori psikoanalisis Sigmund Freud, khususnya konsep id, ego, superego, dan mekanisme pertahanan, penelitian ini menganalisis data tekstual untuk mengungkap bagaimana Fatima membangun dunia imajiner melalui Zahwa, alter egonya yang berasal dari cerita rakyat Beduin. Temuan menunjukkan bahwa disosiasi awalnya berfungsi sebagai strategi adaptif untuk menjaga stabilitas emosional di tengah isolasi ekstrem dan kekerasan. Namun, seiring intensifikasi trauma, terutama setelah amputasi kaki dan pengabaian keluarga, dunia imajiner tersebut runtuh, menandai kegagalan disosiasi sebagai pelindung psikis. Penelitian ini menegaskan relevansi teori Freud dalam menganalisis narasi trauma perempuan dalam konteks budaya non-Barat.
Copyrights © 2026