Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memahami penerapan lima kode semiotika Roland Barthes dalam cerpen A.A. Navis, “Man Rabuka”, yang dipilih karena kekayaannya akan tanda-tanda sosial dan simbol-simbol budaya. Penelitian kualitatif deskriptif ini menerapkan pendekatan objektif dalam menganalisis kata, frasa, dan klausa yang mengandung lima kode Barthes: hermeneutik, konotatif (semes), simbolik, aksian, dan budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kode-kode tersebut beroperasi secara berlapis untuk membongkar makna tersembunyi dan kritik sosial narasi. Kode hermeneutik menciptakan misteri melalui pertanyaan tentang keheningan desa dan stigma pengkhianat. Kode konotatif mengungkapkan kekosongan spiritual karakter Jamain melalui ekspresi penderitaan batin dan atribusi ironis kualitas surgawi pada keburukan duniawi (opium, tuak). Kode simbolik menyajikan oposisi biner yang runtuh antara Pahlawan (sang kakak) dan narator (Aku), yang pada akhirnya ditiadakan oleh kekuatan Kelupaan. Kode aksian memetakan urutan peristiwa penting, terutama penyiksaan sang pahlawan dan tindakan satir Jamain menyuap Malaikat Kubur. Terakhir, Kode budaya diwujudkan melalui istilah agama dan Minangkabau seperti Tuanku, malin, dan frasa judul Man Rabuka. Kesimpulannya, pendekatan semiotika Barthes berhasil mendekonstruksi “Man Rabuka” sebagai sistem tanda yang kompleks, merefleksikan pandangan dunia penulis dan kritik sosial terhadap masyarakat yang terjebak dalam formalisme dan materialisme.
Copyrights © 2025