The phenomenon of flaming on social media is becoming increasingly diverse, especially in the political context, which triggers digital polarization. The Marah-Marah community on platform X serves as a space for users to vent their frustrations and express their political views openly, including against voters of 02, who are supporters of the presidential and vice-presidential candidates number 02 in the 2024 election. This research aims to examine how flaming is manifested and categorized within the Marah-Marah community. This study employs qualitative content analysis methods on posts within this community. The research findings identify four forms of flaming in the Marah-Marah community: Direct Flaming that is frontal, Indirect Flaming that is veiled, Straightforward Flames that are blunt, and Satirical Flames that utilize humor or irony. Each has a distinct communication style but is used to convey anger, disappointment, and rejection of certain political choices, indicating that flaming has evolved into a communication culture within the community, normalizing aggressive expression and reinforcing group identity and emotional solidarity in the digital public space. Abstrak Fenomena flaming di media sosial semakin beragam terutama dalam konteks politik yang memicu polarisasi digital. Komunitas Marah-Marah di platform X menjadi wadah bagi pengguna untuk meluapkan kekesalan dan mengekspresikan pandangan politik secara terbuka termasuk terhadap voters 02, yaitu pendukung pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 02 pada pemilu 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana flaming dimanifestasikan dan dikategorikan dalam Komunitas Marah-Marah. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif terhadap unggahan dalam komunitas tersebut. Hasil penelitian menemukan empat bentuk flaming dalam komunitas Marah-Marah yaitu direct flaming yang bersifat frontal, indirect flaming yang terselubung, straightforward flames yang lugas dan satirical flames yang memanfaatkan humor atau ironi. Masing-masing memiliki gaya komunikasi yang berbeda namun digunakan untuk menyampaikan kemarahan dan kekecewaan serta penolakan terhadap pilihan politik tertentu, menunjukkan bahwa flaming telah berkembang menjadi budaya komunikasi di dalam komunitas, menormalkan ekspresi agresif dan memperkuat identitas serta solidaritas emosional kelompok dalam ruang publik digital.
Copyrights © 2026