Penelitian ini mengkaji tradisi sedekah receh yang dilakukan oleh peziarah makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng, Jombang, sebagai perwujudan ajaran Islam yang berpadu dengan tradisi lokal. Fenomena ini tidak sekadar dipandang sebagai amal sosial, melainkan juga simbol penghormatan dan sarana memperkuat spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami sejauh mana kesadaran peziarah terhadap hadis-hadis Nabi tentang sedekah, termasuk hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa “Allah menerima sedekah meskipun hanya sebesar sebutir kurma dari harta yang baik, lalu Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya”. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui observasi langsung di area makam, wawancara mendalam dengan peziarah dan pengelola makam, serta kajian literatur terkait hadis-hadis sedekah. Analisis data difokuskan pada pengungkapan makna dan motivasi di balik praktik sedekah receh tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sedekah receh di makam Gus Dur berakar pada keyakinan akan keberkahan sedekah yang ikhlas, sesuai dengan hadis Nabi bahwa amal yang sedikit tetapi dari sumber yang baik akan diterima dan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Para peziarah memaknai pemberian uang receh sebagai sarana memperoleh berkah, menolak bala, dan meraih pahala sedekah jariyah. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana sedekah uang receh dapat berfungsi sebagai media untuk memperkuat tali persaudaraan antar sesame manusia, serta menyoroti pentingnya konsep living hadits dalam mengaplikasikan ajaran Islam dalam konteks modern. Temuan ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak penelitian tentang praktik amal dalam berbagai konteks yang ada.
Copyrights © 2026