Penelitian ini membahas peran Bank Sampah di Kampung Nelayan Untia sebagai ruang publik baru bagi perempuan nelayan. Dimana dulunya tempat ini hanya menjadi tempat transit sampah, sekarang telah berubah menjadi wadah untuk berkumpulnya perempuan nelayan. Perempuan bisa keluar dari rumah, pilah sampah bareng, berbicara satu sama lain, dan membantu menjaga lingkungan kampung menjadi bersih dan nyaman. Temuan utama menunjukkan Bank Sampah mengubah cara pandang perempuan mengenai ruang publik. Ibu Sukiyah, Jamilah, dan Hanirah cerita awalnya ragu, tapi lama-lama biasa dan nyaman ikut berkegiatan. Interaksi ini rutin dilakukan sehingga perempuan di Kampung Nelayan Untia menimbulkan rasa kepemilikan terhadap lingkungan atas kampungnya yang bersih, dari menimbang sampah hingga menjadi kebiasaan dirumah untuk memilah sampah. Analisis pada tulisan ini memakai teori Habermas soal ruang publik egaliter tanpa adanya hierarki, interaksi Koentjaraningrat yang menghubungkan adanya hubungan timbal balik, antropologi femiis yang menekankan tentang akses publik terhadap lawan patriarki domestik, plus Wati dkk. (2025) soal pengelolaan komunitas tingkatkan kesadaran lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif lewat wawancara dan observasi di TPS 3R Untia. Peneliti menyarankan untuk memperluas program bank sampah dipesisir dengan pendekatan gender agar perempuan makin berdaya. Kajian antropologi ini bukti inisifatif sampah bisa mengubah struktur sosial pada komunitas marginal.
Copyrights © 2026