Penelitian ini mengkaji kesenjangan antara proklamasi teologis mengenai martabat manusia dan praktik sosial yang sering kali eksklusif terhadap anak berkebutuhan khusus. Dengan tujuan menjembatani "Martabat Ilahi" dan "Aksi Insani". Penelitian ini bertujuan untuk menerjemahkan doktrin Imago Dei menjadi sebuah kerangka kerja praktis untuk inklusi sosial. Menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan mengintegrasikan studi kepustakaan dan studi kasus di UPT Golden Kids UKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara teologis, model relasional Imago Dei yang berlandaskan pada martabat yang melekat, kemanusiaan sebagai relasionalitas, dan interdependensi sebagai anugerah menyediakan fondasi yang paling kokoh untuk inklusi. Secara empiris, studi kasus mengidentifikasi tiga praktik kunci: pedagogi martabat, komunitas interdependen, dan advokasi profetis. Dialog antara teologi dan praktik ini menghasilkan sebuah Model Praksis Teologi Inklusif yang merangkul anak berkebutuhan khusus, yang bertumpu pada tiga pilar: Fondasi Afirmatif, Praktik Partisipatif, dan Keterlibatan Profetis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Imago Dei, ketika dipahami secara relasional, bukan sekadar doktrin abstrak, melainkan sumber daya spiritual dan etis yang kuat untuk menginspirasi aksi insani yang memperjuangkan keadilan dan komunitas yang benar-benar inklusif bagi semua.
Copyrights © 2025