Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan strategi yang dilakukan guru dalam mewujudkan kelas inklusif di MTs Zainul Ishlah Kota Probolinggo, sebuah madrasah berbasis pesantren yang menghadapi beragam kebutuhan belajar siswa tanpa dukungan sistem pendidikan inklusi formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru, observasi partisipatif selama proses pembelajaran, dan dokumentasi kegiatan belajar-mengajar. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data untuk menyaring informasi relevan, penyajian data secara sistematis untuk mengungkap pola dan hubungan antar kategori, serta penarikan kesimpulan yang berorientasi pada interpretasi makna dari hasil temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi tantangan dari aspek akademik berupa keragaman kemampuan dan kebutuhan belajar siswa, tantangan sosial seperti adanya diskriminasi dari teman sebaya, serta tantangan teknis yang meliputi kelelahan fisik siswa akibat aktivitas pesantren, keterbatasan media pembelajaran, dan belum adanya pelatihan khusus terkait pendidikan inklusif. Dalam merespons tantangan tersebut, guru menerapkan strategi berbasis empati, komunikasi interpersonal, dan adaptasi pembelajaran, seperti membangun relasi personal dengan siswa, memberikan waktu belajar tambahan, menyesuaikan materi ajar dengan konteks kehidupan santri, memanfaatkan peran teman sebaya sebagai dukungan belajar, dan menumbuhkan budaya saling menghargai di kelas. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif di madrasah berbasis pesantren tidak hanya ditentukan oleh sarana atau pelatihan formal, tetapi juga sangat bergantung pada sensitivitas sosial, kreativitas, dan komitmen guru dalam merespons kebutuhan beragam peserta didik.
Copyrights © 2025