Kontribusi awal Kesultanan Pontianak dalam membentuk sistem pendidikan Islam di wilayah Kalimantan Barat. Fokus pembahasan diarahkan pada peran strategis Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam merancang model pendidikan Islam yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal dan praktik keagamaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan pendekatan historis yang mencakup tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan historiografi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sejak masa pendiriannya, Kesultanan Pontianak tidak hanya berperan sebagai pusat kekuasaan politik, melainkan juga sebagai penggerak utama dalam dakwah dan pengembangan pendidikan Islam. Pendidikan berlangsung secara nonformal melalui lembaga tradisional seperti surau dan masjid yang menjadi pusat utama pembelajaran agama. Materi yang diajarkan mencakup fikih, tauhid, tasawuf, dan Al-Qur’an, yang disampaikan melalui metode talaqqi dan ceramah. Para ulama yang mengajar umumnya merupakan lulusan Makkah dan Madinah, yang memiliki pengaruh keilmuan dan sosial yang kuat dalam masyarakat. Sistem pendidikan yang diterapkan bersifat fleksibel, berbasis komunitas, dan mengedepankan pendekatan personal antara guru dan murid. Model pendidikan ini mencerminkan suatu bentuk integrasi antara nilai spiritual, pengetahuan keislaman, dan realitas sosial lokal. Dengan demikian, kontribusi Kesultanan Pontianak dalam pendidikan Islam tidak hanya bersifat historis, tetapi juga memberikan landasan konseptual bagi sistem pendidikan Islam yang kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan pada era kontemporer. Peneliti berharap hasil temuan ini dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan wacana pendidikan Islam di masa kini dan mendatang.
Copyrights © 2025