Penelitian ini membahas relevansi tasawuf sebagai dasar pembinaan akhlak dalam konteks modern melalui analisis terhadap karya Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin berjudul Akhlaqul Karimah Akhlaqul Mahmudah Berdasarkan Mudaawamatu Dzikrillah. Di tengah krisis moral yang kerap dihadapi dengan pendekatan normatif dan kognitif, karya ini menawarkan gagasan pembinaan karakter yang menempatkan dzikir sebagai inti penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsep mudaawamatu dzikrillah atau dzikir berkelanjutan sebagai metode spiritual dalam membentuk akhlak mulia dan mencegah akhlak tercela. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis tematik yang diperkaya dengan hermeneutika untuk memahami makna ajaran secara kontekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa Syaikh Ahmad Shohibulwafa memadukan dzikir jahr dan dzikir khafi dalam upaya menumbuhkan kesadaran ilahiah (muraqabah) sebagai dasar pengendalian diri dan pembinaan moral. Dzikir dipahami sebagai fondasi etika spiritual yang melahirkan ketenangan batin, perilaku etis, dan hubungan harmonis dengan Tuhan serta sesama, selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. This study explores the relevance of Sufism as a foundation for moral education in the modern context through an analysis of Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin’s work Akhlaqul Karimah Akhlaqul Mahmudah Berdasarkan Mudaawamatu Dzikrillah. Amid the ongoing moral crisis often addressed through normative and cognitive approaches, this work offers a transformative perspective that places dhikr at the core of spiritual purification (tazkiyatun nafs). The purpose of this study is to analyze the concept of mudaawamatu dzikrillah, continuous remembrance of God, as a spiritual methodology for developing virtuous character and preventing immoral behavior. This research employs a qualitative method with a library research approach and thematic analysis, complemented by hermeneutics to interpret the contextual meaning of the teachings. The findings indicate that Syaikh Ahmad Shohibulwafa integrates dhikr jahr (verbal remembrance) and dhikr khafi (silent remembrance) to cultivate divine awareness (muraqabah) as the basis for self-control and moral development. Dhikr is understood not merely as ritual worship but as a spiritual-ethical foundation that nurtures inner peace, ethical conduct, and harmonious relationships with God and others, in accordance with the values of Pancasila and the 1945 Constitution.
Copyrights © 2025