Sandeq, perahu layar tradisional masyarakat Mandar, telah mengalami transformasi makna dari sekadar alat transportasi laut menjadi simbol identitas politik di ruang publik lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kultural dan politik di balik pemanfaatan simbol sandeq dalam arena politik lokal pasca-reformasi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi politik, melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, politisi, dan pegiat budaya, serta observasi partisipatif dalam festival budaya dan analisis dokumen kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sandeq berfungsi sebagai instrumen legitimasi politik, strategi pencitraan daerah, dan identitas kelembagaan birokrasi. Namun, politisasi simbol ini berpotensi mengaburkan makna filosofisnya ketika digunakan semata-mata sebagai retorika elektoral. Simpulan penelitian menggarisbawahi pentingnya menjaga otentisitas nilai sandeq sebagai warisan budaya yang hidup, sambil mengelola transformasi maknanya dalam konteks politik kontemporer. Implikasi temuan merekomendasikan perlunya kode etik dalam pemanfaatan simbol budaya untuk kepentingan politik, serta penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga makna otentik sandeq. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya menjaga otentisitas nilai sandeq agar tetap menjadi warisan budaya yang hidup.
Copyrights © 2026