Julukan kota Manado sebagai "Kota Seribu Satu Gereja" memberi kesan kentalnya kekristenan di daerah ini. Idealnya nilai- nilai kekristenan dihayati dan dihidupi dalam praksis sehari-hari, termasuk nilai dan norma perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, sakramental, dan tak dapat diceraikan. Tetapi kenyataannya, angka perceraian dari tahun ke tahun semakin meningkat di daerah ini. Pertanyaannya, apa penyebab yang memicu peningkatan ini? Data dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara tahun 2024 menunjukkan beberap faktor seperti perselingkuhan, kekerasan di dalam rumah tangga, ekonomi, dan lain-lain. Kita sementara berada dalam sebuah masyarakat yang oleh Zygmunt Bauman disebut sebagai masyarakat cair (Liquid Modernity) yang mengandung di dalamnya ada yang namanya Liquid Love (cinta yang cair). Apakah kondisi liquid modernity ini ikut memicu peningkatan angka perceraian ini? Karena itu lewat pendekatan fenemonologi yang menjadi metode kerja di dalam penelitian ini, peneliti hendak menemukan bagaimana pasangan-pasangan nikah yang akhirnya bercerai memaknai, menghayati dan mempraktekkan nilai-nilai dan norma perkawinan kekristenan (yang tidak dapat cerai) di dalam kondisi masyarakat cair dengan cinta yang cair ini. Urgensi memahami fenomena perceraian di Kota dengan julukan “kota Seribu Satu Gereja” tidak hanya terbatas pada pengenalan dan pemahaman tentang penyebabnya tetapi memberikan ruang untuk rethinking tentang model pembinaan dan kebijakan strategis pastoral Gereja yang efektif dan efisien sesuai perubahan sosial-budaya yang terjadi.
Copyrights © 2026