Bagaimana berteologi di Indonesia dalam konteks keprihatinan bangsa dan Gereja Asia? Apa langkah-langkah refleksi iman yang akan lebih membantu Gereja agar lebih mewujud sebagai “garam dan terang†masyarakat? Daripada mendiskusikan ke-Asia-an atau keilmiahannya secara berlebihan, para uskup Asia (FABC) menegaskan bahwa juga teologi perlu menjadi pelayan kehidupan. Maka pada sidang yang pertama tahun 1970, diusulkan pendekatan dialog jujur khususnya dengan kaum miskin dan masyarakat Asia yang multi-budaya serta multi-agama. Teologi tidak berhenti sebagai ajaran kebijaksanaan dan kerohanian atau pun ilmu, melainkan juga refleksi kritis untuk “melayani kehidupanâ€. Hal ini dapat diwujudkan melalui “lingkaran pastoralâ€: live-in, analisa sosial, kontemplasi dan perencanaan pastoral, yang mengandaikan familiaritas dengan Kabar Gembira dan tradisi kristiani yang membebaskan.
Copyrights © 2013