Penelitian ini dilakukan di PT ABC yang memproduksi Pupuk Hayati Cair dan menghadapi tingkat cacat produk tinggi, yaitu 54% dari total produksi selama Oktober 2024–Maret 2025. Jenis cacat dominan meliputi kembung, foaming, dan penurunan kestabilan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis cacat, menelusuri akar penyebabnya dengan metode RCA, serta menganalisis risiko kegagalan dengan FMEA. Data dikolektif dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, serta dianalisis menggunakan Diagram Pareto, Fishbone Diagram, dan metode 5W1H. Analisis RCA memperlihatkan cacat kembung dipengaruhi oleh ketidakstabilan suhu fermentor, cacat foaming disebabkan starter bakteri yang terlalu aktif dan proses pencampuran tidak stabil, sedangkan penurunan kestabilan dipicu oleh suhu penyimpanan yang inkonsisten. Selanjutnya, hasil FMEA memperlihatkan bahwa seluruh cacat dianalisis dan diurutkan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN), dengan kembung menempati urutan tertinggi, diikuti foaming dan penurunan kestabilan. Rekomendasi perbaikan mencakup kalibrasi kecepatan pengadukan, penambahan antifoam, standarisasi starter bakteri, stabilisasi suhu penyimpanan dengan sistem pendingin otomatis, serta pengujian Total Plate Count (TPC) pada quality control akhir. Penerapan RCA dan FMEA terbukti efektif sebagai acuan perbaikan berkelanjutan, meningkatkan konsistensi mutu, dan menurunkan risiko kegagalan produk
Copyrights © 2025