Penelitian ini mengkaji makna simbol Yin dan Yang dalam praktik sembahyang sehari-hari pada ajaran Tridharma di Kelenteng Kwa Cheng Bio Palembang. Yin dan Yang dipahami sebagai dua prinsip yang saling berlawanan namun tidak terpisahkan, yang membentuk keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan, termasuk dalam praktik keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan pemuka agama di kelenteng. Analisis data menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce yang memandang simbol sebagai tanda yang menghasilkan makna melalui relasi antara representamen, objek, dan interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol Yin dan Yang hadir secara konsisten dalam berbagai unsur ritual sembahyang, seperti penggunaan dupa, lilin, persembahan, tata ruang altar, serta orientasi ruang ibadah. Simbol-simbol tersebut merepresentasikan keseimbangan antara aspek Yin yang mencerminkan ketenangan dan spiritualitas, dan aspek Yang yang melambangkan energi dan dinamika kehidupan. Dalam ajaran Tridharma, sembahyang tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ibadah ritual, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai keseimbangan dan keharmonisan hidup yang selaras dengan alam, kehidupan sosial, dan kehendak Tuhan.
Copyrights © 2026