Rokok elektrik (vape) kini banyak digunakan sebagai alternatif rokok konvensional, namun aerosol yang dihasilkan tetap mengandung senyawa toksik seperti nikotin, propilen glikol, gliserin, dan flavoring agents yang berpotensi merusak sistem reproduksi pria melalui mekanisme stres oksidatif. Dampaknya terhadap kualitas sperma masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama melalui model hewan dengan paparan terkontrol. Penelitian eksperimental dengan desain post-test only control group dilakukan pada 10 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi dua kelompok: kontrol (n=5) dan perlakuan (n=5). Kelompok perlakuan dipapar uap rokok elektrik selama 30 menit per hari selama 40 hari menggunakan vapor chamber. Sampel sperma diambil dari kauda epididimis. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk, uji Independent Samples t-test, dan Mann–Whitney U. Terdapat penurunan signifikan pada motilitas progresif tikus perlakuan (18%) dibandingkan kontrol (67%) (p = 8,26 × 10⁻⁷). Konsentrasi sperma juga menunjukkan perbedaan signifikan, yaitu 27,3 juta/ml pada perlakuan dibandingkan 48,4 juta/ml pada kontrol (p = 7,46 × 10⁻⁷). Morfologi sperma abnormal meningkat secara signifikan pada kelompok perlakuan (59%) dibandingkan kontrol (18%) (p = 1,04 × 10⁻²). Paparan uap rokok elektrik dengan metode vapor chamber selama 40 hari berpengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas sperma tikus Wistar, ditunjukkan melalui penurunan motilitas, penurunan konsentrasi, serta peningkatan persentase morfologi abnormal.
Copyrights © 2026