Pertahanan udara merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga kedaulatan negara di era perang modern. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah udara yang sangat besar menghadapi tantangan serius dari ancaman pesawat tempur, rudal, hingga UAV canggih. Namun, peran Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD masih terbatas pada pertahanan titik akibat keterbatasan jangkauan alutsista. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi rudal Sungur buatan Turki sebagai opsi modernisasi Arhanud serta menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia prajurit. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan analisis konseptual, diperkuat dengan studi kasus konflik modern seperti perang Rusia-Ukraina dan Nagorno-Karabakh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rudal Sungur memiliki keunggulan berupa mobilitas tinggi, sistem pemandu inframerah modern, efektivitas menghadapi UAV, serta fleksibilitas integrasi lintas-matra. Meski demikian, keterbatasan jangkauan dan ketergantungan pada line of sight menuntut integrasi dalam sistem pertahanan udara berlapis. Studi kasus membuktikan bahwa pertahanan berlapis dan kesiapan SDM menjadi faktor penentu keberhasilan, bukan sekadar alutsista. Kesimpulannya, integrasi rudal Sungur dapat meningkatkan peran Arhanud dari sekadar pertahanan titik menuju pertahanan terminal dan mobile. Saran yang diajukan meliputi adopsi rudal Sungur dalam Opshanudnas, penguatan radar nasional, adaptasi doktrin Arhanud yang lebih mobile, serta latihan gabungan lintas matra dengan dukungan alih teknologi. Modernisasi alutsista yang diiringi kesiapan SDM akan memperkuat kedaulatan udara Indonesia di masa depan.
Copyrights © 2025