Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Modernisasi Arhanud TNI AD di Era Perang Modern: Integrasi Rudal Sungur dan Peningkatan Sdm Dalam Mendukung Pertahanan Udara Nasional Syamiajaya, Nur Afiad
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7240

Abstract

Pertahanan udara merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga kedaulatan negara di era perang modern. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah udara yang sangat besar menghadapi tantangan serius dari ancaman pesawat tempur, rudal, hingga UAV canggih. Namun, peran Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD masih terbatas pada pertahanan titik akibat keterbatasan jangkauan alutsista. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi rudal Sungur buatan Turki sebagai opsi modernisasi Arhanud serta menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia prajurit. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan analisis konseptual, diperkuat dengan studi kasus konflik modern seperti perang Rusia-Ukraina dan Nagorno-Karabakh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rudal Sungur memiliki keunggulan berupa mobilitas tinggi, sistem pemandu inframerah modern, efektivitas menghadapi UAV, serta fleksibilitas integrasi lintas-matra. Meski demikian, keterbatasan jangkauan dan ketergantungan pada line of sight menuntut integrasi dalam sistem pertahanan udara berlapis. Studi kasus membuktikan bahwa pertahanan berlapis dan kesiapan SDM menjadi faktor penentu keberhasilan, bukan sekadar alutsista. Kesimpulannya, integrasi rudal Sungur dapat meningkatkan peran Arhanud dari sekadar pertahanan titik menuju pertahanan terminal dan mobile. Saran yang diajukan meliputi adopsi rudal Sungur dalam Opshanudnas, penguatan radar nasional, adaptasi doktrin Arhanud yang lebih mobile, serta latihan gabungan lintas matra dengan dukungan alih teknologi. Modernisasi alutsista yang diiringi kesiapan SDM akan memperkuat kedaulatan udara Indonesia di masa depan.
OPTIMALISASI DISLOKASI PASUKAN KODAM XII/TANJUNGPURA DALAM MENGHADAPI POTENSI ANCAMAN GENCATAN SENJATA BERSENJATA MELALUI KECEPATAN PERGERAKAN DAN PENGERAHAN PASUKAN DI WILAYAH PERBATASAN KALIMANTAN BARAT SEKTOR BARAT DENGAN BERKOLABORASI BERSAMA SATUAN TUGAS PENGAMANAN PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA-MALAYSIA Syamiajaya, Nur Afiad
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 1 (2026): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, January 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v3i1.2066

Abstract

ABSTRACT The border region of West Kalimantan represents a strategic and highly vulnerable area in the context of Indonesia-Malaysia security dynamics. As the primary territorial command responsible for ground defense, Kodam XII/Tanjungpura is required to maintain a rapid, adaptive, and effective response posture to anticipate the potential emergence of armed ceasefire scenarios. However, geographic complexity, limited infrastructure, and varied cross-border threats necessitate the optimization of troop dislocation, mobility speed, and the effectiveness of command, control, and inter-unit coordination. This study aims to analyze the effectiveness of Kodam XII/Tanjungpura’s troop dislocation strategy, rapid deployment capability, and collaboration with the Indonesia-Malaysia Border Security Task Force (Satgas Pamtas) in achieving operational readiness comparable to the Malaysian Army’s mobile posture in Sarawak. This research employs a literature review method using academic sources, operational documents, defense reports, and troop-dislocation data along the border. The findings reveal that Kodam XII/Tanjungpura’s dislocation pattern is adaptive and follows a layered defense principle, yet remains constrained by limited mobility infrastructure and logistical readiness. Troop movement speed has improved through rapid maneuver exercises and helicopter support, though it is still affected by terrain challenges and weather conditions. Cooperation between Kodam and Satgas Pamtas enhances border security effectiveness, but stronger command integration is required. The study concludes that optimizing border defense requires improving military mobility routes, modernizing command-and-control systems, enhancing multimodal transport capabilities, and establishing Air Defense (Arhanud) units as well as a Composite Battalion in strategic sectors. These efforts are expected to strengthen deterrence and operational readiness in responding to potential armed threats. ABSTRAK Wilayah perbatasan Kalimantan Barat merupakan kawasan strategis yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap potensi ancaman bersenjata, khususnya dalam konteks dinamika keamanan Indonesia–Malaysia. Kodam XII/Tanjungpura sebagai penanggung jawab pertahanan darat di wilayah tersebut dituntut memiliki postur respons cepat, adaptif, dan efektif untuk menghadapi kemungkinan terjadinya gencatan senjata bersenjata. Namun, tantangan berupa kondisi medan yang kompleks, keterbatasan infrastruktur, serta perbedaan karakter ancaman lintas batas menuntut optimalisasi dislokasi pasukan, kecepatan pergerakan, serta efektivitas sistem komando dan koordinasi lintas satuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas strategi dislokasi pasukan Kodam XII/Tanjungpura, kecepatan pengerahan, serta kolaborasinya dengan Satgas Pamtas RI-Malaysia dalam menciptakan kesiapsiagaan operasional yang setara dengan postur mobile Angkatan Tentera Malaysia di wilayah Serawak. Metode penelitian menggunakan studi literatur melalui analisis sumber-sumber akademik, dokumen operasional satuan, laporan pertahanan, serta data dislokasi pasukan di wilayah perbatasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola dislokasi Kodam XII/Tanjungpura telah bersifat adaptif dan mengikuti prinsip pertahanan berlapis, namun masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan infrastruktur mobilisasi dan kesiapan logistik. Kecepatan pergerakan pasukan cukup baik melalui latihan manuver dan dukungan helikopter, namun dipengaruhi medan dan kondisi cuaca. Kerja sama Kodam–Satgas Pamtas terbukti meningkatkan efektivitas pengamanan, meskipun integrasi sistem komando masih perlu diperkuat. Penelitian menyimpulkan bahwa optimalisasi pertahanan memerlukan peningkatan jalur mobilisasi, modernisasi Komando Kendali dan Komunikasi, penambahan kemampuan mobilitas lintas moda, serta pembentukan unsur Arhanud dan Batalyon Komposit di sektor strategis. Upaya tersebut diharapkan meningkatkan daya tangkal dan kesiapan respons Kodam XII/Tanjungpura dalam menghadapi dinamika ancaman bersenjata.