Penciptaan karya seni ini dilatarbelakangi oleh fenomena Coligo in sole (melek tetapi tidak melihat), sebuah analogi bagi masyarakat modern yang membutuhkan humor sebagai media katarsis dan penyadaran diri di tengah tekanan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memvisualisasikan sintesis antara naluri humor dan kedalaman spiritualitas ke dalam media seni gambar (drawing), yang dipandang sebagai medium paling jujur dan spontan dalam merekam jejak batin. Metode penciptaan yang digunakan mengacu pada teori L.H. Chapman yang meliputi tahap penemuan gagasan, penyempurnaan, dan visualisasi. Landasan estetik karya bertumpu pada konsep metafora untuk meredeskripsi realitas dan pendekatan surealisme yang menekankan pada otomatisasi psikis. Hasil penciptaan ini terwujud dalam karya berjudul "Srengenge Nyunar" yang terinspirasi dari lirik lagu Alm. Djaduk Ferianto, menggambarkan narasi syukur semesta (matahari, angin, dan hewan) yang memuji Tuhan. Temuan esensial dalam proses ini adalah pemaknaan teknik arsir (drawing) sebagai laku "wirid"; sebuah aktivitas meditatif yang repetitif menyerupai filosofi tarian Sufi untuk mencapai ketenangan jiwa. Melalui karya ini, humor tidak hanya hadir sebagai hiburan, melainkan jembatan reflektif menuju kesadaran spiritual.
Copyrights © 2025