Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana remaja dari keluarga broken home mengevaluasi gaya pengasuhan dan bagaimana hal tersebut memengaruhi kesehatan mental mereka. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif fenomenologis. Tiga remaja, berusia 15 hingga 18 tahun, yang pernah mengalami perpisahan orang tua dipilih untuk penelitian ini menggunakan metode seleksi bertujuan. Pendekatan analisis interaktif Miles dan Huberman digunakan untuk memeriksa data, yang dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan wawancara mendalam. Temuan studi membuktikan jika perpisahan orangtua menyebabkan perubahan pola asuh yang cenderung menjadi permisif atau otoriter. Remaja yang mendapatkan dukungan emosional, kasih sayang, dan komunikasi terbuka menunjukkan kestabilan emosi yang lebih baik. Sebaliknya, kurangnya dukungan emosional berdampak pada munculnya perasaan kesepian, kecemasan, dan kebingungan identitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hubungan emosional dan komunikasi orangtua–anak lebih berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja dibandingkan keutuhan struktur keluarga
Copyrights © 2025