Penelitian ini mengubah cara pandang terhadap perhutanan sosial dengan menyoroti perspektif masyarakat Desa Tumbang Habangoi di Kalimantan Tengah tentang Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) sebagai pendorong kesejahteraan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan, meskipun dihadapkan pada tantangan penambangan emas ilegal. Dengan metode Most Significant Change (MSC) yang inovatif melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan observasi, studi ini mengumpulkan kisah transformasi dari 33 responden yang beragam, termasuk tokoh adat, perempuan, dan pemuda, yang mengungkapkan bahwa 79% di antaranya merasakan manfaat ekonomi signifikan dari KUPS rotan, sembari melestarikan hutan lebat dan nilai budaya Handep Hapakat. Temuan inovatif ini menekankan ambivalensi penting di mana LPHD berhasil dalam konservasi lingkungan dan menyediakan pendapatan stabil dari hasil hutan non-kayu, serta mengurangi pembakaran liar dan memulihkan vegetasi. Namun, tantangan muncul dari rendahnya transparansi, praktik nepotisme, dan partisipasi yang tidak merata. Dengan 59% masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan, penelitian ini mencoba menggambarkan perbedaan antara penggunaan rotan berkelanjutan dan risiko dari mandulang emas.
Copyrights © 2025