Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh financial distress terhadap nilai perusahaan dengan konservatisme akuntansi sebagai variabel moderasi dalam perspektif teori keagenan pada perusahaan manufaktur di pasar berkembang (Indonesia dan Malaysia). Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian kuantitatif ini menggunakan data sekunder dari laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bursa Efek Malaysia (BEM) tahun 2024. Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan total 1.595 observasi. Nilai perusahaan diukur dengan Tobin's Q, financial distress diukur dengan Interest Coverage Ratio (ICR) dikalikan -1, dan konservatisme diukur dengan total akrual ditambah depresiasi dibagi total aset dikalikan -1. Analisis data dilakukan menggunakan regresi berganda dan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan kovarians HAC (Newey-West) untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas, berbantuan perangkat lunak E-Views 13. Temuan – Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial distress berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan (koefisien -0,0023; prob. 0,000). Konservatisme akuntansi tidak berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan (prob. 0,3607), namun terbukti memperlemah dampak negatif financial distress terhadap nilai perusahaan (koefisien interaksi 0,0091; prob. 0,0033). Dengan demikian, konservatisme berperan sebagai pure moderator dan berfungsi sebagai governance buffer yang meredam perilaku oportunistik manajer saat tekanan keuangan meningkat. Keterbatasan penelitian – Penelitian ini tidak menggunakan variabel kontrol seperti negara, ukuran perusahaan, atau kualitas audit. Nilai perusahaan hanya diukur dengan proksi Tobin's Q padahal terdapat beragam pengukur lainnya. Penelitian tidak melakukan pengujian split sample atau pengujian terpisah antara Indonesia dan Malaysia. Penelitian hanya menggunakan data cross-section tahun 2024 sehingga pengaruh antar waktu tidak diakomodasi. Implikasi – Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur teori keagenan dengan menunjukkan bahwa konservatisme bekerja sebagai variabel moderasi murni (pure moderator) yang nilainya baru terasa ketika perusahaan berada dalam tekanan keuangan, sehingga berfungsi sebagai governance buffer yang mereduksi perilaku oportunistik manajer. Secara praktis, manajemen perlu memandang konservatisme akuntansi bukan sebagai penghambat kinerja jangka pendek, tetapi sebagai strategi perlindungan nilai (value protection strategy) ketika menghadapi tekanan keuangan. Penerapan kebijakan pelaporan yang lebih hati-hati dapat mengurangi reaksi negatif pasar terhadap kondisi distress.
Copyrights © 2026