Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis secara mendalam dampak manifestasi gejala psikosomatis terhadap kualitas konsentrasi belajar dan tingkat keterlibatan siswa Sekolah Dasar (SD) dalam kegiatan sekolah. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas atas (4-6) yang mengalami gejala psikosomatis, serta guru dan orang tua sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala psikosomatis yang umum terjadi, seperti sakit kepala berulang, sakit perut, dan kelelahan kronis, berfungsi sebagai distraktor internal yang kuat, menyebabkan penurunan signifikan pada kualitas konsentrasi siswa. Gejala fisik ini menghambat pemrosesan kognitif, membuat siswa sulit fokus dan mencerna materi pelajaran. Selain itu, kelelahan dan lemas memicu penurunan keterlibatan emosional dan perilaku, yang termanifestasi dalam kurangnya semangat, menarik diri dari interaksi sosial, dan terhambatnya kelancaran program sekolah. Temuan kunci lainnya adalah perbedaan pemaknaan gejala di antara pihak terkait. Siswa cenderung memaknainya sebagai sakit fisik biasa, guru menafsirkannya sebagai masalah disiplin atau kurang manajemen waktu, sementara orang tua melihatnya sebagai masalah ketahanan atau nutrisi. Perbedaan interpretasi ini mengakibatkan strategi penanganan yang tidak terpadu hanya fokus pada solusi fisik (obat/istirahat) tanpa mengatasi akar penyebab psikologis (stres dan kecemasan). Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan perlunya intervensi yang berorientasi pada kesehatan mental dan dukungan terpadu dari sekolah dan keluarga untuk mengatasi psikosomatis pada siswa Sekolah Dasar.
Copyrights © 2025