Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi makna 10 Muharram dalam narasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk, berdasarkan dokumentasi unggahan resmi NU dan Muhammadiyah di Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok selama bulan Muharram 1446 H. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi tema unggahan dan dilengkapi dengan dokumentasi visual (screenshot) untuk memperkuat keabsahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NU lebih menonjolkan aspek tradisi lokal dan kesalehan sosial, misalnya melalui praktik bubur syura dan santunan anak yatim, dengan gaya komunikasi kultural dan emosional. Sebaliknya, Muhammadiyah lebih menekankan purifikasi ibadah dan edukasi berbasis dalil sahih, dengan gaya komunikasi rasional dan normatif. Analisis wacana mengungkap bahwa media sosial menjadi arena kontestasi otoritas keagamaan, sekaligus ruang transformasi makna Asyura dari ritual ke solidaritas sosial. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori komunikasi dakwah kontemporer serta memberikan implikasi praktis bagi strategi dakwah digital yang lebih inklusif, kontekstual, dan adaptif terhadap dinamika masyarakat Muslim Indonesia.
Copyrights © 2025