Penerjemahan teks berita dari institusi resmi, seperti artikel website Kemenag dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab, berada di persimpangan antara tuntutan fungsional (akurasi informasi) dengan tekanan ideologis (keterbacaan tinggi). Teks berita yang diteliti ini sarat dengan istilah kelembagaan dengan konteks kultural lokal, seperti KSKK, OMI, DBMTN yang tidak memiliki padanan langsung di dalam Bahasa Arab. Bagi penerjemah ini menjadi dilema, apakah memilih kelancaran teks agar pembaca nyaman (domestikasi) atau mempertahankan bahasa dan budaya sumber (foreignisasi). Penelitian ini bertujuan menganalisis teknik penerjemahan terjemah teks berita berdasarkan teori Molina dan Albir, serta menginterpretasikan implikasi makro dari penggunaan teknik terpilih terhadap ideologi penerjemahan Lawrence Venuti. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif pada terjemah Indonesia-Arab artikel berita Kemenag. Hasil analisis pada 30 unit intervensi mikro yang diklasifikasikan berdasarkan tekniknya (modulasi, deskripsi, reduksi, dll.) menunjukkan dominasi ideologi domestikasi (hampir 100%). Teknik penerjemahan yang dominan digunakan yaitu modulasi dan reduksi (masing-masing 24,1%). Penerjemah secara konsisten merestrukturisasi ulang teks sumber, termasuk menggunakan teknik modulasi untuk mengubah sudut pandang naratif dan teknik reduksi untuk menghilangkan redundansi, serta teknik deskripsi pada akronim lokal untuk menghilangkan hambatan secara kultural dan linguistik demi kefasihan berita dalam bahasa sasaran. Dominasi ideologi domestikasi ini menunjukkan invisibilitas penerjemah, yang bekerja untuk menciptakan teks yang mengalir dan sepenuhnya mematuhi konvensi jurnalisme formal dalam bahasa Arab.
Copyrights © 2025