Rantai pasok Piper retrofractum Vahl. (cabe jawa/cabe jamu) di Pulau Madura memainkan peran penting dalam sektor agribisnis di wilayah tersebut. Studi ini mengevaluasi kinerjanya dengan menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR), berfokus pada tiga kategori utama: resiliensi, ekonomi, dan keberlanjutan. observasi lapangan dan wawancara dengan aktor utama petani, pedagang/pengumpul, dan produsen jamu modern dilakukan untuk menilai kondisi rantai pasok saat ini. Analisis mengidentifikasi tantangan signifikan dalam keandalan, responsivitas, dan kelincahan pada kategori Resiliensi, serta inefisiensi biaya dan rendahnya Profitabilitas pada kategori ekonomi. Sementara itu, Keberlanjutan menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik, tetapi masih memerlukan perbaikan, terutama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Evaluasi berbasis SCOR mengungkapkan bahwa skor kinerja keseluruhan rantai pasok rata-rata berada di bawah 70% untuk kategori resiliensi dan ekonomi, yang mengindikasikan perlunya perbaikan yang signifikan. Rekomendasi utama mencakup penerapan sistem manajemen inventaris berbasis IoT, adopsi praktik just in time (JIT), serta promosi diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah. Selain itu, penguatan kolaborasi antar aktor rantai pasok dan investasi dalam teknologi digital menjadi langkah krusial untuk mengatasi inefisiensi serta meningkatkan daya saing dan keberlanjutan rantai pasok. Studi ini juga melakukan pembandingan rantai pasok cabe jamu dengan agroindustri sejenis, menyoroti area yang dapat dioptimalkan serta praktik terbaik yang dapat diadopsi. Temuan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan dan peluang dalam rantai pasok cabe jamu, serta menawarkan strategi konkret untuk meningkatkan kinerjanya. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal di Pulau Madura, tetapi juga mendukung tujuan yang lebih luas dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.
Copyrights © 2025