Ketergantungan terhadap kedelai impor sebagai bahan baku utama tempe mendorong pencarian alternatif dari sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan. Biji nangka (Artocarpus heterophyllus), yang selama ini menjadi limbah pangan, memiliki kandungan karbohidrat (38,4 g), protein (6,6 g), dan lemak (0,4 g) per 100 g bahan, serta serat pangan dan senyawa bioaktif yang mendukung proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi biji nangka sebagai bahan baku tempe non-kedelai melalui studi literatur sistematis terhadap publikasi ilmiah dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa tempe berbasis biji nangka memiliki tekstur padat, aroma khas, dan rasa yang dapat diterima oleh konsumen, dengan kadar protein meningkat setelah fermentasi menjadi sekitar 9,35%, serta kadar serat pangan mencapai 1,23%. Produk ini juga menunjukkan potensi sebagai pangan fungsional karena mengandung senyawa antioksidan alami. Pemanfaatan biji nangka mendukung diversifikasi pangan, pengurangan limbah organik, dan pemberdayaan komoditas lokal melalui pendekatan upcycling. Untuk mencapai kualitas produk yang optimal, diperlukan penelitian lanjutan terkait formulasi, teknik fermentasi, dan evaluasi mutu dalam skala produksi yang lebih luas.
Copyrights © 2025