Kota Sorong, secara histori dikenal sebagai Kota Minyak “Oil City”, karena sumber daaya alamnya, kini menhadapi tantangan atau citra yang muncul dengan julukan negative “Kota Bajingan”. Penelitian ini bertujuan menganalisis dualisme city branding dalam pandangan politik tentang analisis wacana. Penelitian ini adalah kualitatif, dengan metode pengumpulan data adalah literatur review yang bersumber dari berita di media masa dan mengeksploitasi persepsi masyarakat dan upaya pemerintah dalam mengelola reputasi kota. Analisis dengan metode analisis wacana dari Michel Foucault. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra negatif dan isu sosial seperti keamanan, urbanisasi dan perkembangan media sosial yang tidak terkontrol, sementara citra positif didasarakan pada potensi ekonomi dan posisi strategis kota Sorong sebagai pintu gerbang provinsi Papua Barat Daya.
Copyrights © 2026