Wilayah Provinsi Lampung, khususnya Kotaagung, merupakan daerah dengan aktivitas tektonik tinggi karena kedekatannya dengan zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Kondisi ini menempatkan Kotaagung sebagai kawasan yang memiliki potensi kegempaan signifikan sehingga diperlukan kajian mendalam terkait bahaya seismik sebagai dasar mitigasi risiko bencana. Salah satu parameter utama dalam evaluasi bahaya gempa adalah Peak Ground Acceleration (PGA), yang menggambarkan percepatan tanah maksimum akibat guncangan dan menjadi acuan dalam perencanaan bangunan tahan gempa serta penyusunan zonasi seismik. Penelitian ini mengestimasi nilai PGA di Kotaagung dengan memanfaatkan metode Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR) berbasis data mikrotremor. Sebanyak 78 titik pengukuran direkam menggunakan sensor tunggal dengan durasi 20–30 menit dan frekuensi sampling 100 Hz. Data tiga komponen getaran tanah kemudian dianalisis untuk memperoleh kurva HVSR, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan frekuensi dominan (f₀), periode dominan (Tg), dan nilai PGA menggunakan rumus empiris Kanai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode dominan tanah di Kotaagung berada pada rentang 0,09–2,92 s, sedangkan nilai PGA permukaan berkisar antara 155 hingga 1033 gal. Berdasarkan klasifikasi risiko gempa, wilayah studi termasuk dalam kategori “besar dua” hingga “sangat besar dua”, yang mencerminkan tingkat kerentanan seismik tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan strategi mitigasi bencana dan perencanaan tata ruang berbasis risiko untuk meminimalkan dampak gempabumi di Kotaagung dan sekitarnya.
Copyrights © 2025