Perkembangan media digital telah memperluas arus informasi dan menciptakan kondisi informationoverload yang memengaruhi kemampuan publik dalam menilai kredibilitas pesan. Situasi inisemakin diperburuk oleh meningkatnya penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi melaluimedia sosial, situs tidak terverifikasi, dan berbagai platform daring. Melimpahnya informasi yangtidak tersaring membuat publik semakin rentan terhadap manipulasi serta menurunkan tingkatkepercayaan terhadap institusi. Dalam kondisi tersebut, praktisi Public Relations (PR) dituntut untukmembangun trust architecture, yaitu kerangka strategis yang dirancang untuk menumbuhkan,menjaga, dan memulihkan kepercayaan publik.Penelitian ini bertujuan menganalisis elemen-elemen utama dalam trust architecture pada praktikPR digital serta meninjau strategi yang dapat digunakan organisasi untuk menjaga kredibilitas.Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menelaah jurnal, buku, dan laporan yangberkaitan dengan digital trust dan manajemen komunikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwakepercayaan publik dapat diperkuat melalui transparansi informasi, konsistensi pesan di seluruhkanal komunikasi, komunikasi berbasis bukti, serta keterlibatan digital yang autentik.Selain itu, kemampuan organisasi dalam merespons isu secara cepat, menjaga etika komunikasi, danmengelola reputasi secara berkelanjutan turut membangun fondasi kepercayaan yang stabil. Trustarchitecture menjadi elemen penting untuk meminimalkan penyebaran hoaks, mempertahankankredibilitas, dan membangun hubungan jangka panjang dengan publik di tengah lingkungan digitalyang sarat distorsi informasi. Oleh karena itu, strategi PR yang berfokus pada kepercayaan semakinmenjadi kebutuhan utama bagi organisasi di era digital saat ini.
Copyrights © 2025