Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan usaha pada Kelompok Tani Pincuran Tujuah di Kabupaten Lima Puluh Kota yang mengolah cabai menjadi produk cabai goreng. Inovasi ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan pendapatan petani di tengah tantangan keterbatasan modal, sumber daya manusia, serta penguasaan teknologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi langsung, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) yang dipadukan dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total skor IFAS sebesar 3,71 dan EFAS sebesar 3,53, yang menempatkan posisi usaha pada kuadran I (strategi agresif), dengan nilai koordinat X = 0,09 dan Y = 0,39. Hal ini menunjukkan bahwa Kelompok Tani Pincuran Tujuah berada dalam kondisi yang kuat dan memiliki peluang besar untuk berkembang. Strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi: (1) memperluas pangsa pasar dan memperbaiki desain kemasan; (2) meningkatkan kualitas dan daya simpan produk; (3) memanfaatkan teknologi digital untuk promosi dan peningkatan kapasitas produksi; (4) menjalin kemitraan dengan pemerintah, biro perjalanan umroh, serta pihak swasta; dan (5) memperkuat kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan. Penerapan strategi tersebut diintegrasikan ke dalam sembilan elemen Business Model Canvas, mencakup segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hubungan pelanggan, sumber pendapatan, sumber daya utama, aktivitas utama, kemitraan utama, dan struktur biaya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kelompok tani dan pelaku agribisnis lainnya dalam merancang strategi pengembangan usaha berbasis inovasi dan nilai tambah untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani.Kata kunci: Analisis SWOT, Business Model Canvas, Strategi Pengembangan Usaha
Copyrights © 2025