Fenomena Bâlijjhâ perempuan di Madura memperlihatkan kerumitan sosial yang berakar dalam struktur budaya patriarkal, di mana perempuan kerap ditempatkan pada posisi subordinat di tengah tuntutan ganda antara ranah domestik dan publik. Dalam realitas sosial tersebut, perempuan Madura tidak hanya diharapkan menjadi istri dan ibu yang taat terhadap norma keluarga, tetapi juga dituntut untuk menopang ekonomi rumah tangga melalui aktivitas berdagang keliling. Situasi ini memunculkan beban ganda (double burden) yang menuntut kekuatan fisik, ketahanan emosional, serta kedewasaan spiritual. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji konstruksi peran ganda perempuan Bâlijjhâ Madura dengan menggunakan perspektif tafsir gender Amina Wadud terhadap Al-Qur’an, khususnya dalam konteks pemahaman relasi suami-istri yang berlandaskan prinsip keadilan dan kesetaraan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Proses pengumpulan data melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta telaah dokumen. Analisis dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara berkesinambungan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peran ganda perempuan Bâlijjhâ merupakan wujud adaptasi terhadap tekanan ekonomi sekaligus bentuk resistensi terhadap struktur budaya patriarkal. Di sisi lain, peran tersebut juga menjadi ruang negosiasi yang memungkinkan perempuan menampilkan kemandirian dan agensi sosialnya. Melalui tafsir progresif Amina Wadud, relasi gender dalam rumah tangga seharusnya dipahami sebagai kemitraan yang sejajar, bukan hubungan hierarkis yang timpang. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat wacana tafsir gender Al-Qur’an yang lebih kontekstual dengan realitas sosial masyarakat, sementara secara praktis memberikan landasan bagi rekonstruksi nilai keadilan dan kesetaraan gender dalam budaya Madura yang masih berorientasi patriarkal
Copyrights © 2025