Artikel ini menganalisis dinamika politik identitas di Indonesia dengan menekankan pada interaksi antara agama, etnisitas, dan media sosial dalam membentuk kontestasi politik di era demokrasi digital. Menggunakan pendekatan konseptual interseksionalitas dan teori framing, artikel ini menunjukkan bahwa ketiga elemen tersebut saling menguatkan dalam menciptakan polarisasi identitas yang memengaruhi preferensi elektoral, persepsi publik, dan formasi opini politik. Studi ini menguraikan bagaimana media sosial menjadi akselerator utama dalam menyebarkan narasi eksklusif berbasis identitas, yang sering kali memperdalam fragmentasi sosial dan melemahkan deliberasi demokratis. Melalui analisis terhadap berbagai kasus kontemporer seperti Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2024, artikel ini menyoroti bahwa politik identitas bukan hanya alat mobilisasi, tetapi telah menjadi strategi kekuasaan yang terinstitusionalisasi. Di sisi lain, penelitian ini mengajukan berbagai strategi mitigasi, termasuk pendidikan multikultural, regulasi media digital yang etis, afirmasi kebijakan untuk kelompok rentan, serta kepemimpinan politik transformatif. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap diskursus akademik dan kebijakan tentang penguatan demokrasi inklusif di tengah masyarakat pluralistik
Copyrights © 2025