Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pesan Dakwah dalam Tradisi Pupujian: Analisis Isi Syair Pupujian di Masjid Uswatun Hasanah Kampung Leuwi Dulang Kecamatan Pameungpeuk Kab. Bandung Rustandi, Hendi
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 3 No. 01 (2024): JISSC-DIKSI Februari
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v3i01.257

Abstract

Tradisi melantunkan Pupujian di Masjid Uswatun Hasanah yang berada di Kampung Leuwi Dulang RT 02 RW 02 Desa Rancamula Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung, dilakukan dalam rangka syiar Islam dan ajakan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ada 12 jenis syair Pupujian yang dinadomkan di masjid tersebut yaitu: Nabi Ahir Jaman, Éling-Éling, Masa Alloh, Paniatan Ngaos, Tujuh Golongan Ahli Surga, Solawat ka Nabi, Nasab Rosul, Alam Mahsar, Istigfar, Ngabagéakeun nu Susah, Robana Ya Robana, dan “Pangalaman Santri” Ke 12 jenis syair Pupujian tersebut dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis). Analisis Pupujian tersebut dilakukan pada struktur pesan dan jumlah bait. Dari pengamatan itu terlihat bahwa paling sedikit syair Pupujian terdiri dari 2 bait, dan paling banyak 24 bait. Jumlah baris bervariasi, dua baris, empat dan enam baris atau larik. Pesan dakwah yang terkandung dalam setiap judul syair Pupujian yang diteliti yaitu: (a) mengingatkan umat Islam agar selamanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama (Ibadah), (b) meuji Keagungan Allah Dzat Pencipta alam dan seisinya (Tauhid), (c) menyeru umat Islam agar banyak berdoa dan berdzikir mengingat Allah SWT (Zikir), (d) seruan bertobat kepada Allah (Akhlak), (e) senantiasa melantunkan shalawat kepada Nabi (Ibadah) dan (f) berisi nasihat agar manusia bersabar dan tawakal kepada Allah terutama dalam menghadapi segala musibah dan ujian, termasuk ujian dalam menuntut ilmu (Akhlak).
GAYA BAHASA, DIKSI, DAN IMAJINASI: ANALISIS METAFORIS TERHADAP TAFSIR JUZ ‘AMMA ANAK KARYA RONI NUGRAHA Rustandi, Hendi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 9 No 02 (2024): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v9i02.7651

Abstract

Artikel ini mengkaji gaya bahasa, diksi dan imajinasi: Analisis Metaforis Terhadap Tafsir juz ‘amma Anak Karya Roni Nugraha. Berbeda dengan tafsir anak pada umumnya yang cenderung kuat dalam visualisasi, tafsir anak karya Roni Nugraha lebih mengedepankan aspek gaya bahasa, imajinasi dan diksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir Juz ‘amma untuk anak cenderung dominan menggunakan gaya bahasa perumpanaan dibanding metafora. Di samping itu, tafsir juz ‘amma untuk anak, walau pun berelasi dengan dunia tafsir yang dianggap ilmiah dan serius, namun karena diberikan keterangan untuk anak, maka dalam tafsir tersebut banyak ditemukan diksi humor dengan harapan pembaca tidak cepat jenuh. Di samping diksi humor dan didaktik, diksi kritik sering digunakan Roni untuk mengkritik sikap intoleran, gaya hidup, tidak disiplin dan menyia-nyiakan waktu. Sementara imajinasi dalam tafsir juz ‘amma dimunculkan dalam upaya untuk menumbuhkan kesadaran pada kasih sayang Tuhan, kuasa dan keesaan Tuhan, untuk menumbuhkan sifat empati, dan untuk menumbuhkan rasa takut Translated with DeepL.com (free version)
Politik Identitas di Indonesia: Interaksi Agama, Etnisitas, dan Media Sosial dalam Dinamika Kontestasi Politik Rustandi, Hendi
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i5.812

Abstract

Artikel ini menganalisis dinamika politik identitas di Indonesia dengan menekankan pada interaksi antara agama, etnisitas, dan media sosial dalam membentuk kontestasi politik di era demokrasi digital. Menggunakan pendekatan konseptual interseksionalitas dan teori framing, artikel ini menunjukkan bahwa ketiga elemen tersebut saling menguatkan dalam menciptakan polarisasi identitas yang memengaruhi preferensi elektoral, persepsi publik, dan formasi opini politik. Studi ini menguraikan bagaimana media sosial menjadi akselerator utama dalam menyebarkan narasi eksklusif berbasis identitas, yang sering kali memperdalam fragmentasi sosial dan melemahkan deliberasi demokratis. Melalui analisis terhadap berbagai kasus kontemporer seperti Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2024, artikel ini menyoroti bahwa politik identitas bukan hanya alat mobilisasi, tetapi telah menjadi strategi kekuasaan yang terinstitusionalisasi. Di sisi lain, penelitian ini mengajukan berbagai strategi mitigasi, termasuk pendidikan multikultural, regulasi media digital yang etis, afirmasi kebijakan untuk kelompok rentan, serta kepemimpinan politik transformatif. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap diskursus akademik dan kebijakan tentang penguatan demokrasi inklusif di tengah masyarakat pluralistik