Transisi sosial masyarakat dari agraris menuju industri mengubah kondisi sosial-ekonomi suatu wilayah dan kerap diasumsikan mendorong pemerataan serta kesejahteraan. Artikel ini mengkaji perubahan tersebut pada Kecamatan Dayeuhkolot yang berkembang menjadi kawasan industri. Penelitian menggunakan pendekatan library research melalui studi dokumenter dan studi kasus dengan membandingkan data literatur terhadap kondisi empiris setempat, lalu menafsirkannya dengan konsep siklus (populasi) Ibnu Khaldun. Temuan menunjukkan bahwa pertumbuhan industrialisasi tidak secara otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Dampak negatif yang menonjol meliputi menurunnya kesejahteraan penduduk asli, upah di bawah standar, praktik outsourcing yang merugikan, pencemaran/limbah industri yang memutus perairan pertanian, dominasi investor luar yang melemahkan ekonomi lokal, tata ruang yang semakin kumuh, serta kualitas pendidikan yang belum merata. Kesimpulannya, transisi agraris–industri di Dayeuhkolot belum menghadirkan kemakmuran yang “mulus” sebagaimana diharapkan; diperlukan peran kebijakan, keadilan, rasa aman, dan kerja sama sosial sebagaimana ditekankan dalam perspektif Ibnu Khaldun.
Copyrights © 2025