Kabupaten Nias merupakan wilayah yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata sebagai sumber utama perekonomian. Meskipun demikian, ketiga sektor tersebut belum mampu menyerap tenaga kerja secara memadai. Situasi ini menyebabkan banyak masyarakat memilih bekerja di luar daerah demi memperoleh peluang kerja yang dinilai lebih baik, khususnya di kota besar seperti Medan, Jakarta, dan daerah urban lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), tingkat migrasi tenaga kerja dari Kabupaten Nias mencapai 15% dari total angkatan kerja, dengan sebagian besar migran terlibat di sektor informal. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara potensi ekonomi daerah dan ketersediaan lapangan kerja lokal, yang diperparah oleh rendahnya tingkat upah, minimnya akses terhadap pelatihan keterampilan, serta faktor sosial budaya yang menganggap bekerja di luar daerah sebagai sesuatu yang lebih bernilai. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi tenaga kerja di Kabupaten Nias serta menelaah dampaknya terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sempitnya peluang kerja, upah yang rendah, serta ketimpangan pembangunan merupakan pendorong utama migrasi. Dampak migrasi meliputi manfaat ekonomi melalui kiriman uang (remitansi), tetapi juga sisi negatif berupa menurunnya jumlah tenaga kerja produktif di daerah dan munculnya potensi masalah sosial akibat perpisahan keluarga dalam jangka panjang. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi penanganan migrasi tenaga kerja.
Copyrights © 2026