Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan membedah tindak kriminalitas dalam dua novel yang memiliki latar budaya berbeda, yaitu The Girl with the Dragon Tattoo karya Stieg Larsson dan Bendera Setengah Tiang karya Annisa Lim. Dengan menggunakan perspektif sosiologi sastra, kedua karya ini dipandang sebagai refleksi dari ketimpangan kekuasaan dan kerusakan struktur sosial yang gagal melindungi individu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik baca dan catat. Analisis dilakukan dengan menghubungkan teks sastra terhadap kondisi sosial di mana karya tersebut ditulis. Hasil pembahasan menunjukkan berbagai bentuk kriminalitas yang muncul dalam kedua novel. Dalam The Girl with the Dragon Tattoo, ditemukan tindak kriminal berupa kekerasan berbasis gender (patriarki), kejahatan kerah putih di dunia korporasi, serta kriminalitas ideologis (supremasi Nazi). Sementara dalam Bendera Setengah Tiang, tindak kriminal lebih berfokus pada ranah mikro dan lingkungan pendidikan, yang meliputi pelecehan seksual verbal, intimidasi (bullying), penganiayaan fisik, pembunuhan terencana, korupsi internal perusahaan, tawuran antar sekolah, penculikan, hingga teror ancaman pembunuhan. Melalui perbandingan ini, penelitian menyimpulkan bahwa sastra bertindak sebagai agen perubahan yang menyuarakan keresahan sosial kaum yang lemah secara universal.
Copyrights © 2026