Tuberkulosis merupakan penyakit menular dan penyebab kematian kedua tertinggi di dunia. Indonesia menempati peringkat kedua penyumbang kasus TBC global setelah India. Provinsi Sumatera Barat mencatat peningkatan signifikan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak, terutama pada tahun 2024 mencapai 2.883 kasus. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik dari aspek penjamu maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi kasus TBC anak berdasarkan faktor penjamu dan lingkungan guna mendukung perumusan kebijakan pencegahan dan pengendalian TBC yang lebih efektif. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari 19 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan sebaran masing-masing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus TBC anak cenderung lebih tinggi pada wilayah dengan cakupan imunisasi BCG rendah, cakupan ASI eksklusif rendah, kepadatan hunian tinggi, jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang rendah, dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi multisektoral yang mencakup peningkatan cakupan imunisasi BCG dan ASI eksklusif, perbaikan kondisi permukiman, perluasan akses terhadap layanan kesehatan, serta pengentasan kemiskinan. Selain itu, edukasi masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan TBC anak juga perlu diperkuat guna menekan laju peningkatan kasus secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025