Radikalisme digital adalah paham yang mengupayakan perubahan atau pembaharuan digital melalui cara-cara kekerasan dan ekstrem. Radikalisme adalah orang-orang yang mempunyai sikap ekstrim. Faktanya, mereka menganggap dirinya benar dan orang lain yang tidak setuju dengan mereka mengalami delusi atau salah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka radikal. Berkat perkembangan teknologi yang begitu pesat, media sosial mudah diakses hampir di seluruh lapisan masyarakat. penelitian ini diklasifikasikan sebagai penelitian literatur, yang termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan melibatkan pengumpulan data dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber literatur. Sumber-sumber ini tidak terbatas pada buku, tetapi juga mencakup bahan dokumentasi, majalah, jurnal, dan surat kabar.Teknik dalam mengumpulan data melalui referensi yang relevan, artikel jurnal, laporan lembaga riset baik secara offline maupun online. perkembangan zaman radikalisme tidak hanya di temui pada ceramah ceramah atau narasi kaku lagi , tetapi sudah menyebar dalam media sosial dimana paham tersebut sudah dikemasdengan bentuk visual yang menarik dan estetik sehingga mengelabui individu yang melihatnya. Di era modern, penyebaran paham radikalisme ini menjadi lebih masif seiring kelompok atau sel teror menggunakan media sosial sebagai sarana penyebaran paham mereka.Radikalisme kini bertransformasi menjadi estetika digital manipulatif melalui konten video pendek yang mengeksploitasi algoritma media sosial. Generasi Z sangat rentan terpapar pola digital funneling yang menggiring audiens dari ruang publik ke grup privat terenkripsi. Fenomena ini memicu micro-radicalization yang merusak toleransi. Tanpa literasi digital kritis, teknologi akan terus menjadi alat efektif penyebaran ideologi ekstrem yang mengancam stabilitas nasional.
Copyrights © 2026