Pentingnya awareness fungsional menjadi tahap penting dalam proses pengambilan keputusan adopsi teknologi oleh lembaga pendidikan. Konsep strategi B2B, diferensiasi produk, dan tahapan brand awareness digunakan sebagai landasan teoritis untuk menguji upaya perusahaan dan respon pelanggan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap Account Manager PT Telkom Witel Yogyakarta sebagai pihak penyedia produk digital pendidikan dan perwakilan dari enam sekolah sebagai pihak pelanggan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran B2B Telkom didominasi oleh pendekatan formal Top-Down (melibatkan Dinas Pendidikan) untuk legitimasi dan didukung strategi berbasis pengalaman (trial dan pilot project) untuk membangun awareness fungsional. Diferensiasi produk Pijar Telkom (didukung infrastruktur data center Telkom, harga per sekolah, dan service center 24 jam) menjadi keunggulan kompetitif. Namun, efektivitas strategi ini dalam mencapai adopsi penuh masih terhambat oleh tingkat awareness yang tidak merata, keterbatasan anggaran dan infrastruktur sekolah, serta adanya kepuasan pelanggan terhadap platform pesaing yang telah digunakan. Proses keputusan adopsi di sekolah bersifat kolektif, hierarkis, dan sangat sensitif terhadap jaminan dukungan teknis serta layanan after-sale berkelanjutan dari vendor. Secara keseluruhan, strategi B2B Telkom efektif dalam menciptakan kesadaran awal (Brand Recognition), tetapi perlu memperkuat relationship marketing dan pendampingan pasca-sosialisasi untuk mengatasi hambatan internal pelanggan dan mengkonversi awareness menjadi adopsi penuh.
Copyrights © 2026