Penelitian ini menyoroti penurunan pemahaman dan nilai karakter anak terhadap kakawihan kaulinan barudak di era globalisasi dan digital, ketika anak-anak lebih mengenal permainan modern dibandingkan permainan tradisional yang kaya makna. Fokus kajian mencakup oray-orayan, ayang-ayang gung, tokecang, paciwit-ciwit lutung, dan pérépét jengkol, dengan analisis makna lirik dan gerakan serta nilai karakter silih asih, silih asah, dan silih asuh melalui pendekatan semiotika Roland Barthes dan Charles Sanders Peirce. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa lirik dari buku Peperenian Urang Sunda karya Rahmat Taufiq Hidayat dkk dan dokumentasi gerakan dari video YouTube. Analisis dilakukan melalui lapisan denotasi, konotasi, dan mitos serta model triadik Peirce (ikon, indeks, simbol) untuk mengungkap makna budaya dan karakter anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik dan gerakan kakawihan tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga sarat pesan moral yang mendukung pengembangan karakter. Nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh terejawantahkan melalui interaksi, kerja sama, serta tanggung jawab dalam permainan. Dengan demikian, kakawihan kaulinan barudak terbukti menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual, menyenangkan, dan relevan untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila.
Copyrights © 2025