Kebakaran hutan di Indonesia merupakan bencana tahunan yang memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian. Deteksi dini menjadi langkah krusial untuk meminimalkan kerugian, salah satunya melalui penerapan Early Warning System (EWS). Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan dan menguji prototipe EWS kebakaran hutan berbasis fiber optik dengan fokus pada kinerja sensor dalam mendeteksi suhu, kelembapan, dan konsentrasi asap pada berbagai kondisi lingkungan. Pengujian dilakukan menggunakan variasi jarak sensor terhadap sumber panas/asap (30–70 cm), kecepatan angin (normal, 1,0 m/s, 1,5 m/s, 2,0 m/s), serta waktu pengamatan (pagi, siang, malam). Hasil pengujian menunjukkan bahwa jarak, kecepatan angin, dan waktu pengamatan berpengaruh nyata terhadap parameter yang terukur. Sensor yang ditempatkan lebih dekat ke sumber panas/asap menghasilkan suhu dan konsentrasi asap yang lebih tinggi serta kelembapan yang lebih rendah. Peningkatan kecepatan angin mempercepat waktu respon deteksi sekaligus memengaruhi besarnya nilai yang terbaca. Sistem ini mampu mengirimkan data secara real-time melalui fiber optik dengan latensi rendah.Kata kunci— Kebakaran hutan, Early Warning System, fiber optik, sensor DHT22, sensor MQ-2.
Copyrights © 2025