This study analyzes the structure, symbols, and cultural functions of the oral narrative Sagata within the Lampung Saibatin community using a semiotic and performative-observation approach. Data were collected through in-depth interviews with dalang performers, supporting narrators, and community members who regularly attend Sagata performances. The findings indicate that Sagata possesses a consistent narrative structure consisting of an opening, core storyline, reinforcement of customary values, and a closing segment. Each part conveys moral teachings and cultural identity through rhythm, intonation, and symbolic expressions. The study reveals that natural symbols, ancestral references, and customary ethics function as semiotic codes that reinforce collective memory and the cultural ethos of the Saibatin community. Moreover, Sagata serves as a medium for cultural education, ritual legitimacy, and social cohesion. These findings demonstrate that Sagata is not merely a form of oral art but a cultural system that preserves communal identity amid ongoing social change. Penelitian ini menganalisis struktur, simbol, dan fungsi narasi lisan Sagata pada komunitas Lampung Saibatin dengan pendekatan semiotika dan observasi performatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delang, penutur komunitas, serta masyarakat yang rutin menghadiri pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sagata memiliki struktur naratif yang konsisten, terdiri atas pembuka, inti cerita, penegasan nilai adat, dan penutup. Setiap bagian memuat pesan moral dan konstruksi identitas budaya yang direproduksi melalui intonasi, ritme, dan penggunaan simbol. Temuan memperlihatkan bahwa simbol alam, leluhur, dan nilai adat berfungsi sebagai kode semiotik yang memperkuat memori kolektif dan etos budaya Saibatin. Selain itu, Sagata berperan sebagai media pendidikan budaya, legitimasi adat, dan pengikat sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa Sagata bukan sekadar seni tutur, tetapi sistem makna yang menjaga kontinuitas identitas komunitas di tengah perubahan sosial.
Copyrights © 2026