Latar belakang: Penatalaksanaan hipertensi umumnya membutuhkan pengobatan terapi farmakologis jangka panjang yang umumnya mencakup pemakaian kombinasi lebih dari satu jenis obat untuk mencapai kontrol tekanan darah. Penggunaan beberapa jenis obat secara bersamaan (polifarmasi) dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi antarobat, yang berpotensi menimbulkan efek merugikan pada pasien. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan interaksi obat yang berpotensi terjadi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan deskriptif. Data diperoleh dari arsip resep pasien hipertensi yang diperoleh di Rumah Sakit X Kabupaten Bekasi periode Januari hingga Maret 2025, dengan jumlah sampel sebanyak 120 resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis interaksi obat dilakukan menggunakan Medscape Drug Interaction Checker. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 120 resep yang dianalisis, sebanyak 106 resep (88,3%) teridentifikasi memiliki potensi interaksi obat, sedangkan 14 resep (11,7%) dinyatakan tidak teridentifikasi potensi interaksi obat. Klasifikasi tingkat keparahan menunjukkan bahwa interaksi kategori moderate menjadi yang paling dominan dengan persentase 75,5%, diikuti oleh kategori mayor sebesar 15,8%, dan minor sebesar 8,7%. Simpulan dan saran: Disimpulkan bahwa mayoritas resep untuk pasien hipertensi dalam hasil penelitian ini mengindikasikan terjadinya potensi interaksi obat, dengan kategori tingkat keparahan terbanyak berada pada kategori moderate. Saran penelitian selanjutnya, dilakukan analisis hubungan interaksi obat dengan hasil terapi.
Copyrights © 2025