Pengaruh media sosial yang semakin masif membawa tantangan baru bagi penguatan moderasi beragama di kalangan generasi muda. Algoritma media sosial yang bekerja melalui personalisasi konten berpotensi mempersempit wawasan pengguna, memperkuat bias, munculnya sikap eksklusif dan intoleran melalui fenomena filter bubble dan echo chamber. Kondisi ini menjadi semakin krusial di tengah masyarakat multikultural seperti Belitung, khususnya bagi generasi muda dan santri sebagai agen perubahan dan pendakwah digital. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat moderasi beragama melalui literasi digital dan pemahaman kritis terhadap algoritma media sosial bagi generasi muda di Belitung. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan identifikasi masalah, perencanaan aksi, pelaksanaan workshop, refleksi, dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan melalui workshop moderasi beragama, literasi digital, dan pemahaman algoritma media sosial yang melibatkan santri Pondok Pesantren di Belitung. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep moderasi beragama, meningkatnya kesadaran literasi digital, serta kemampuan kritis dalam menyikapi konten keagamaan di media sosial dan memahami bahwa algoritma media sosial tidak bersifat netral dan berpotensi memengaruhi pola konsumsi informasi keagamaan. Kegiatan ini berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang lebih kritis, moderat, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan media sosial, sekaligus memperkuat ekosistem digital yang toleran dan inklusif di tingkat lokal.
Copyrights © 2026