Keterlambatan bicara (speech delay) pada balita usia 0–5 tahun merupakan isu tumbuh kembang yang meningkat di Indonesia dan cenderung menonjol pada keluarga di kawasan industri. Artikel ini bertujuan memetakan masalah dan mengembangkan model konseptual yang mengaitkan screen time, pola asuh/interaksi verbal, dan stres kerja orang tua dengan fenomena speech delay di Kabupaten Bekasi. Kajian konseptual-deskriptif berbasis narrative literature review dan observasi situasional awal konteks keluarga pekerja industri di Kabupaten Bekasi. Sintesis dilakukan terhadap bukti ilmiah dan sumber klinis/kesehatan masyarakat yang relevan untuk mengidentifikasi mekanisme risiko serta merumuskan peta masalah dan model konseptual. Literatur menunjukkan screen time berlebih berasosiasi dengan keterlambatan bahasa melalui berkurangnya interaksi dua arah yang dibutuhkan untuk akuisisi bahasa. Stres kerja orang tua dan keterbatasan waktu interaksi pada rumah tangga pekerja industri memperbesar peluang penggunaan gawai sebagai strategi pengasuhan praktis, sekaligus menurunkan kualitas pengasuhan responsif dan stimulasi verbal. Model konseptual yang diusulkan menempatkan “konteks industrial” sebagai determinan struktural yang memengaruhi stres kerja, kualitas interaksi/pola asuh, dan screen time balita yang kemudian meningkatkan risiko speech delay fungsional. Fenomena speech delay di kawasan industri dapat dipahami sebagai hasil interaksi faktor perilaku anak dan faktor psikososial keluarga yang dibentuk oleh lingkungan kerja industri. Model konseptual ini dapat digunakan sebagai kerangka uji empiris dan rancangan intervensi pada tahap penelitian berikutnya.
Copyrights © 2024