Tuberkulosis merupakan satu dari sepuluh penyebab utama kematian di dunia. Indonesia berada di urutan ketiga negara dengan penyakit TBC tertinggi setelah India dan China. Pemerintah Indonesia berupaya mengeliminasi TBC pada 2030 dengan target laju insiden 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian enam per 100.000 penduduk. Demikian pula halnya tuberkulosis paru diwilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah menduduki urutan pertama tertinggi dengan jumlah kasus 718 pada tahun 2023. Penyakit TB Paru tidak hanya menimbulkan beban kesehatan yang besar, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang serius bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam upaya mengatasi masalah ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan bagi pasien tuberkulosis paru menjadi faktor kunci yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah dalam hal ini petugas kesehatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuntitatif dengan wawancara mendalam kepada berbagai pemangku kepentingan terkait, seperti petugas kesehatan, pasien, dan keluarga pasien. Hasil penelitian menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam akses terhadap pelayanan kesehatan TBC, termasuk kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, jarak geografis yang jauh, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang TBC. Selain itu, ketersediaan obat-obatan dan peralatan diagnostik juga menjadi perhatian utama. Studi ini memberikan wawasan yang berharga untuk perbaikan sistem pelayanan kesehatan TBC di wilayah ini, dengan menekankan perlunya upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas layanan kesehatan bagi pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat: Memberikan gambaran nyata tentang ketersediaan fasilitas kesehatan dan aksesibilitas layanan TB di Kota Palu. Kata kunci: Ketersediaan; Aksesibiltas Yankes: TB Paru
Copyrights © 2025